wrapper

2110 pidatopelantikanpresiden

Pemerintahan Presiden Joko Widodo menegaskan komitmennya 5 tahun kedepan sebagai pemerintahan yang berorientasi kepada hasil (result oriented goverment), hal ini disampaikan Presiden pada  pidato kenegaraan perdana sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, di gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

"Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil yang nyata. Saya sering ingatkan ke para menteri, tugas kita bukan hanya membuat dan melaksanakan kebijakan, tetapi tugas kita adalah membuat masyarakat menikmati pelayanan, menikmati hasil pembangunan”. Ujarnya.

Dengan kata lain pemerintah akan berfokus pada pencapain kinerja, dengan memangkas prosedur kerja yang berbelit-belit serta mencegah inefisiensi anggaran yang selama ini ada pada program-program kerja yang tidak beroirentasi pada hasil.

Dalam proses percepatan reformasi birokrasi Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Kinerja Dan Pengawasan (RBKUNWAS) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi selaku prime mover reformasi birokrasi mengembangkan sistem yang terbukti dapat mencegah inefisiensi anggaran yang nilainya mencapai triliunan rupiah pada program-program kerja yang tidak berorientasi pada hasil, yaitu Sistem Akuntabillitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).

Tercatat pada tahun 2017 SAKIP dapat mencegah potensi pemborosan anggaran hingga Rp 46 triliun, kemudian pada tahun 2018 SAKIP dapat mencegah inefisiensi anggaran hingga 64,8 triliun pada 24 provinsi dan 216 kabupaten/kota. 

Lantas bagaimana SAKIP dapat menekan inefisiensi hingga triliunan rupiah, dan dapat mencegah program-program yang tidak berorientasi pada hasil ?

Beritaphoto

SAKIP atau akuntabilitas kinerja, sering disebut juga manajemen kinerja sektor publik. Tujuan dari penerapan sistem ini adalah untuk mendorong birokrasi yang berorientasi pada hasil. Setiap instansi pemerintah harus fokus pada memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia, ditengah keterbatasan sumber daya yang ada. Untuk itu, setiap program, kegiatan, anggaran, struktur organisasi, dan SDM yang ada harus punya manfaat yang jelas, fokus dan terukur. Setiap alur/proses tata kelola harus berorientasi hasil, mulai dari perencanaan kinerja, pelaksanaan, pengukuran kinerja, pelaporan, hingga monitoring dan evaluasi. Perencanaan Kinerja sebagai awal proses tata kelola memegang peranan yang sangat penting, seperti kata pepatah: “If you fail to plan, you plan to fail” (jika anda gagal dalam merencanakan, sama saja seperti merencanakan sebuah kegagalan).

Menetapkan sasaran, indikator dan target

2110 sakip1

Perencaan kinerja dimulai dengan menetapkan kondisi apa yang akan diwujudkan. Hal ini biasa disebut sebagai sasaran strategis. Penetapan sasaran strategis harus berorentasi hasil, mengacu kepada isu riil yang ada di masyarakat serta prioritas nasional/daerah. Sasaran strategis tidak boleh berorientasi proses, kegiatan atau bahkan proyek tertentu.

Setelah menetapkan sasaran yang berorientasi hasil, tetapkan indikator kinerja yang jelas, terukur dan juga berorientasi hasil. Kegagalan dalam menetapkan indikator kinerja dapat menyebabkan kesalahan dalam menyimpulkan keberhasilan/kegagalan sebuah instansi. Lebih buruk dari itu, keberhasilan/kegagalan menjadi tidak terukur padahal sudah banyak anggaran yang dibelanjakan untuk program/kegiatan tertentu. Setelah menetapkan indikator yang jelas, kemudian tetapkan berapa target kinerja yang akan dicapai.

Menetapkan strategi pencapaian kinerja

2110 sakip2

Untuk menetapkan strategi yang tepat dalam mencapai kinerja, dilakukan analisis terhadap faktor-faktor kunci apa saja yang mempengaruhi pencapaian kinerja. Faktor-faktor yang berupa hasil antara (intermediate outcome) ini dijabarkan sampai dengan tingkat terendah (operasional) berikut dengan ukuran kinerjanya. Ini akan menjadi strategi yang dipilih dalam upaya pencapaian kinerja.

Menetapkan proses/kegiatan yang harus dilakukan

2110 sakip3

Pada tahap berikutnya, instansi pemerintah merancang proses/kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai strategi yang telah dipilih. Proses bisnis dan prosedur dirancang sedemikian rupa untuk memastikan kegiatan akan menghasilkan output yang tepat dan mengarah ke outcome yang diinginkan. 

Mengidentifikasi program dan kegiatan yang tidak efektif

2110 sakip4

Peta strategi dan proses bisnis kegiatan yang baru saja dibuat kemudian dijadikan acuan dalam mengkoreksi program dan kegiatan. Pada tahap ini, kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan peta strategi tadi akan dihapus atau digantikan dengan kegiatan baru yang lebih berdampak, lebih jelas hasilnya dan lebih terukur keberhasilannya.

Mengidentifikasi anggaran belanja yang tidak efisien

2110 sakip5 copy

Seringkali, belanja dan komponennya dalam sebuah kegiatan tidak sesuai dengan maksud kegiatan tersebut. Disinilah potensi inefisiensi sering terjadi, dengan modus menyembunyikan belanja-belanja yang tidak perlu dalam kegiatan yang tampak strategis. Maka langkah berikutnya adalah menghapus dan memperbaiki komponen belanja agak sejalan dengan proses bisnis yang seharusnya.


Link Terkait

whistleblowingombudsmankpklaporbpkp presiden riSurvei integritas1Survei integritas2e office